Jumat, 25 Maret 2016

BIOGRAFI SEORANG WIRAUSAHAWAN 1



Biografi Bob Sadino, Sang Pengusaha Sukses Indonesia





Biografi Bob Sadino, Memiliki nama lengkap Bambang Mustari Sadino, lebih dikenal dengan panggilan Bob sadino. Lahir di Lampung, tanggal 9 Maret 1933, wafat pada tanggal 19 Januari 2015. Beliau akrab dipanggil dengan sebutan 'om Bob'. Ia adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. 

Bob Sadino terlahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Beliau merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara. Disaat orang tuanya meninggal, Bob yang saat itu masih berumur 19 tahun, telah mewarisi seluruh harta kekayaan dari keluarganya harta itu diberikan kepadanya di karenakan para saudara kandungnya sudah di anggap hidup mapan. Bob lalu menghabiskan sebagian dari hartanya untuk berkeliling dunia.Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakukannya setelah keluar dari perusahaan tempat ia bekerja ialah menyewakan mobil Mercedes yang masih ia miliki, dan pada saat itu ia sendiri yang sekaligus menjadi sopirnya. Akan tetapi, suatu ketika ia mengalami kecelakaan dan mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak memiliki uang untuk dapat memperbaikinya, Ia pun beralih pekerjaan menjadi seorang tukang batu. Pada saat itu gajinya hanya Rp.100. Beliau pun pada saat itu sempat mengalami depresi akibat dari tekanan hidup yang ia alami.


Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah di Indonesia

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan
menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.



Seorang Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan.

Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik.

Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam. Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.

Meninggal Dunia
Setelah sempat dirawat kurang lebih selama 2 bulan, pengusaha sukses yang nyentrik (Bob Sadino) akhirnya menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, pada hari senin tepatnya tanggal 19 januari 2015 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.
Terdengar kabar bahwa Beliau meninggal setelah berjuang melawan penyakitnya yaitu infeksi saluran pernafasan kronis. Beliau dikatakan sudah tak sadarkan diri selama 2-3 minggu. Penyakitnya tersebut terkait dengan factor usia yang sudah lanjut dan kondisinya yang semakin menurun setelah istrinya meninggal dunia terlebih dahulu yaitu pada bulan Juli 2014.


Profil dan Biodata Bob Sadino

Nama : Bob Sadino
Lahir : Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Wafat : Jakarta, 19 Januari 2015
Agama : Islam

Pendidikan :
  • -SD, Yogyakarta (1947)
  • -SMP, Jakarta (1950)
  • -SMA, Jakarta (1953)

Karir :
  • Karyawan Unilever (1954-1955)
  • Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
  • Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
  • Dirut PT Boga Catur Rata
  • PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
  • PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618


Sumber :


Rabu, 23 Maret 2016

LOKASI WISATA KERATON YOGYAKARTA

Keraton Yogyakarta




Untuk wisatawan yang ingin mengenal jauh tentang kota yogyakarta, patut mengunjungi Keraton Yogyakarta (Jogja) atau sering disebut dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terletak di jantung provinsi Daerah Istimewa Yogjakarta (DIY), Indonesia. Karena tempatnya berada di tengah-tengah Jogja, dimana ketika di ambil garis lurus antara Gunung Merapi dan Laut Kidul, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton atau Kraton Jogja merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah jawa dan merupakan obyek wisata yang paling populer dan sering dikunjungi oleh para wisatawan,baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan luar negeri. Faktor sejarah membuat orang banyak yang datang ke kerotan yogyakarta ini. Sebab, keraton ini merupakan keraton yang masih ada hingga saat ini dan termasuk sebuah keraton di Indonesia yang paling besar dan terkenal.
Keraton Yogyakarta ini berawan dari sejak abad ke 15 yaitu Kasultanan Yogyakarta dimulai tahun 1558 Masehi dimana Ki Ageng Pemanahan dihadiahi oleh Sultan Pajang sebuah wilayah di Mataram karena jasa-jasanya membantu Pajang mengalahkan Aryo Penangsang. Ki Ageng Pemanahan merupakan putra dari Ki Ageng Ngenis dan cucu dari Ki Ageng Selo, seorang tokoh ulama besar dari Selo, Kabupaten Grobogan.
Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1577 membangun istana di Pasargede atau Kotagede. Selama menempati wilayah pemberian Sultan Pajang, Ki Ageng Pemanahan tetap setia pada Sultan Pajang hingga akhirnya wafat pada tahun 1584 dan dimakamkan di sebelah Masjid Kotagede.
Selanjutnya kepemimpinan di Kotagede diteruskan oleh putranya yaitu Sutawijaya yang juga disebut Ngabehi Loring Pasar yang memang waktui itu rumahnya berada di sebelah utara pasar. Kepemimpinan Sutawijaya berbeda dengan ayahnya yaitu menolak tunduk pada Sultan Pajang.
Melihat ketidakpatuhan Sutawijaya tersebut, kerajaan Pajang merencanakan merebut kembali kekuasaanya di Mataram . Selanjutnya pada tahun 1587 kerajaan Pajang menyerang Mataram dan terjadilah pertempuran yang hebat. Dalam pertempuran ini justru pasukan Pajang mengalami kekalahan karena diterjang badai letusan Gunung Merapi sedangkan Sutawijaya dan pasukannya bisa menyingkir dan akhirnya selamat.
Selanjutnya pada tahun 1588 Mataram menjadi kerajaan dan Sutawijjaya diangkat menjadi sultan yang bergelar Panembahan Senopati atau Senopati Ingalaga Sayidin Penatagama. Arti dari nama tersebut merupakan ulama yang menjadi pengatur dari kehidupan beragama yang berada dalam kerajaan Mataram dan berarti sebagai panglima perang.
Untuk memperkuat legitimasi dalam kekuasaanya, Panembahan Senopati tetap menggunakan dan mewarisi tradisi yang dilakukan kerajaan Pajang dalam mengatur kekuasaanya atas seluruh wilayahnya di Pulau Jawa.
Waktu terus berjalan dan akhirnya pada tahun 1601 Panembahan Senopati wafat dan selanjutnya kepemimpinannya diteruskan oleh puteranya yang bernama Mas Jolang yang kemudian dikenal sebagai Panembahan Senopati Seda Ing Krapyak. Setelah Mas Jolang wafat kemudian diteruskan oleh Pangeran Arya Martapura. Karena beliau sering sakit maka digantikan oleh kakaknya yaitu Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati Ingalaga Abdurrahman yang dikenal dengan sebutan Prabu Pandita Hanyakrakusuma atau Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Kerajaan Mataram pada masa kepemimpinan Sultan Agung mengalami perkembangan yang cukup pesat sehingga kehidupan rakyat pada waktu itu hidup makmur dan tenteram. Selanjutnya pada tahun 1645 Sultan Agung wafat dan diteruskan oleh puteranya yang bernama Amangkurat I.
Sewaktu dipimpin puteranya tersebut kerajaan Mataram banyak mengalami kemerosotan yang luar biasa karena terjadi perpecahan diantara keluarga kerajaan Mataram sendiri yang akhirnya perpecahan tersebut dimanfaatkan oleh VOC untuk campur tangan.
Perpecahan tersebut selanjutnya diakhiri pada tanggal 13 Februari 1755 dengan diadakannya perjanjian Giyanti yang berisi kerajaan Mataram dibagi 2 yaitu menjadi Kesunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Perjanjian Giyanti memutuskan Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan atas Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Abdul Rakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Semenjak itu Pangeran Mangkubumi resmi diangkat menjadi Sultan pertama di Yogyakarta yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Berikut ini parra Sultan yang pernah menjadi raja di keraton Yogyakarta :
  1. Sri Sultan Hamengku Buwono I ( 1755-1792 )
  2. Sri Sultan Hamengku Buwono II ( 1792-1810 )
  3. Sri Sultan Hamengku Buwono III ( 1810-1813 )
  4. Sri Sultan Hamengku Buwono IV ( 1814-1822 )
  5. Sri Sultan Hamengku Buwono V ( 1822-1855 )
  6. Sri Sultan Hamengku Buwono VI ( 1855-1877 )
  7. Sri Sultan Hamengku Buwono VII ( 1877-1921 )
  8. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII ( 1921-1939 )
  9. Sri Sultan Hamengku Buwono IX ( 1939-1988 )
  10. Sri Sultan Hamengku Buwono X ( 1988- sekarang )
Lingkungan Keraton Yogyakarta disusun secara konsetrik yang merupakan tata ruang keraton yang tediri dari :
1.      Lapis terluar : Dalam lapisan ini terdapat alun-alun Selatan dengan segala perlengkapannya yang terdiri dari Alun-alun utara dengan Masjid Agung, Pekapalan, Pegelaran dan Pasar. Sedangkan Alun-alun Selatan terdiri dari Kandang Gajah Kepatihan yang merupakan sarana birokrasi dan benteng sebagai sarana pertahanan militer.
  1. Lapis kedua yang terdiri dari : Siti Hinggil yang merupakan halaman yang disebut juga pelataran yang ditinggikan yang berada di sebelah utara dan selatan. Siti Hinggil Utara terdapat tempat yang bernama bangsal Witana dan bangsal Maguntur Tangkil. Tempat ini digunakan untuk upacara kenegaraan. Siti Hinggil Selatan sering dipergunakan untuk kepentingan Sultan yang bersifat pribadi misalnya menyaksikan latyihan para prajurit hingga adu macan dengan manusia (rampogan) atau banteng. Bagian terakhir dari lapisan ini adalah Supit Urang / Pemengkang yang merupakan jalan yang mengitari Siti Hinggil.
  1. Lapis ketiga Keraton Yogyakarta terdiri dari Pelataran Kemadhungan Utara dan Selatan. Pelataran Kemadhungan digunakan untuk ruang transit menuju ruang utama. Pada pelataran Kemadhungan Utara terdapat bangsal yang bernama Pancaniti dan pada pelataran Kemadhungan Selatan terdapat bangsal Kemadhungan.
  1. Lapis ke empat berdiri Pelataran Sri Manganti dan bangsal Sri Manganti yang dipergunakan untuk ruang tunggu sebelum menghadap raja. Di bangsal ini terdapat bangsal Trajumas yang terletak di sisi utara Pelataran Kemagangan sedangkan bangsal kemagangan berada dio sebalah selatan. Bangsal ini diperunakan sebagai tempat transit terakiti sebelum ke pusat Istanan.
  1. Lapis terakhir adalah pusat konsentrik yag terdapat pelataran Kedhaton. Tata ruang dari yang tersusun oleh bangunan yang terdiri dari tratag, pendhopo, pringgitan.
Setiap pelataran tesebut dihubungkan oleh benteng yang kuat dan dihubungkan oleh gerbang.. Gerbang tersebut jumlahnya ada sembilan, sembilan pelataran terdapat 9 pintu gerbang.
  1. Gerbang Pangurakan
  2. Gerbang Brajanala
  3. Gerbang Srimanganti
  4. Gerbang Danapratapa
  5. Gerbang Kemangangan
  6. Gerbang Gadung Mlathi
  7. Gerbang Kemandhungan
  8. Gerbang Gading
  9. Gerbang Tarub Agung
Dilihat dari jumlah pelataran dan gerbang yang berjumlah sembilan yang menyimbolkan kesempurnaan sebagai alegori dari sembilan lubang yang terdapat pada manusia. Keraton dibangun berdasar sumbu imajiner utara-selatan berperan sebagai sumbu primer dan sumbu barat-timur berperan sebagai sumbu sekunder.
Dalam aktivitas kehidupan di Keraton, Sultan merupakan figur nomor satu, sebagai wakil Tuhan dari bumi, berkuasa dalam militer dan keagamaan. ( Senopati Ingalaga Nagabdul Rahman Sayidina Panatagama Kalifatullah ). Oleh karena itu sosok Sultan dianggap sakral, begitu juga dalam kegiatan yang dilakukannya. Demikian juga dengan setiap ruang keraton dan tata ruangnya memiliki kesakralan tersendiri.
Kesakralan yang terdapat pada ruang dalam keraton mempunyai kesakralan tersendiri yang mengartikan frekwensi kegiatan Sultan pada tempat tersebut. Di Alun-alun, Siti Hinggil dan Pagelaran, Sultan berkunjung ketempat tersebut hanya 3 kali dalam setahun, yaitu pada acara saat Pisowanan Ageng Grebeg Mulud, Sawal dan Besar. Serta pada saat kesempatan khusus pada penobatan Sultan dan Putra Mahkota/Pangeran Adipati Anom.
Kegiatan Sultan lebih intensif di Kemandhungan dimana pada pelataran ini berada Bangsal Pancaniti yang berarti harfiah ( memeriksa lima ). Ditempat ini Sultan menyelesaikan berbagai persoalan perkara yang harus ditangani raja. Bangsal ini juga dipakai abdi dalem menunggu untuk menghadap Sultan.
Pelataran Srimanganti diperuntukkan untuk menerima tamu yang tidak terlalu formal. Di tempat ini Sultan HB II menulis dan membacakan buku kramat Serat Suryaraja di depan para punggawa kerajaan.
Pelataran Kedaton merupakan tempat yang mempunyai kesakralan paling tinggi. Di pusat tempat tersebut digunakan untuk menyimpan pusaka milik Keraton.
Prabayeksa dan Kencana dipakai sebagai tempat Sultan bertahta sepanjang tahun dan tempat menerima tamu-tamu penting.
Banyak benda-benda peninggalan dalam keraton yang banyak menyimpan cerita sejarah yang berguna untuk tujuan penelitian dan referensi yang berguna pengetahuan generasi penerus bangsa. Benda-benda tersebut seperti perpustakaan yang menyimpan naskah kuno, pusaka kerajaan dan museum foto yang menyimpan koleksi foto raja-raja di Yogyakarta, keluarga dan kerabatanya. Upacara tradisional pun secara rutin dilaksanakan untuk melestarikan kebudayaan leluhur seperti jamasan ( memandikan pusaka dan kereta kerajaan ) dan Grebeg Maulud.
Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih dikenal dengan nama Keraton Yogyakarta merupakan museum hidup bagi kebudayaan Jawa yang berada di Yogyakarta dan menjadi pusat perkembangan kebudayaan Jawa.
Para wisatawan dapat menyaksikan dan belajar secara langsung bagaimana budaya jawa tersebut dijaga dan dilestarikan di Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta dibangun Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755 , beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Keraton Yogyakarta didirikan dan menjadi garis imajiner yang merupakan garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis.
Untuk mengunjungi Keraton Yogyakarta terdapat dua loket pintu masuk yaitu yang pertama di Tepas Keprajuritan ( Depan Alun-alun Utara ) dan pintu kedua terdapat di Tepas Pariwisata ( Regol Keben ). Jika anda memasuki Keraton dari pintu pertama maka para wisatawan sebatas dapat memasuki Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil dan melihat beberapa koleksi kereta dari Keraton Yogyakarta. Sedangkan bila wisatawan masuk dari Tepas Pariwisata maka dapat menelusuri dan memasuki kompleks Sri Manganti dan Kedathon yang terdapat Bangsal Kencono yang merupakan Balairung Utama di Keraton Yogyakarta. Jarak antara loket yang pertama dan yang kedua dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik becak karena melewati Jalan Rotowijayan
Setelah anda berhasil memasuki Keraton , anda akan melihat aktivitas beberapa abdi dalem yang bertugas di dalam keraton. Anda juga dapat mengamati dan melihat koleksi barang-barang Keraton yang terpajang atau memang berada di tempat tersebut. Ada beberapa koleksi barang-barang peninggalan dari Keraton yang disimpan dalam kotak kaca di berbagai ruangan dalam Keraton seperti : keramik dann pecah belah, miniatur atau replika, foto, senjata dan beberapa jenis batik dan diorama dari proses pembuatannya.
Pada hari hari tertentu dan sudah terjadwal, wisatawan dapat melihat pertunjukan seni yang diadakan di Keraton Yogyakarta. Pertunjukan seni tersebut seperti macapat, wayang kulit, wayang golek dan tari-tarian. Untuk melihat pertunjukan seni tersebut, anda tidak perlu mengeluarakan biaya tambahan.
Jika anda dapat berkunjung pada hari Selasa Wage maka anda dapat melihat lomba Jemparingan atau Panahan yang menggunakan gaya Mataram di Kemandhungan Kidul. Jemparingan ini dilaksanakan dalam ranga tinggalan dalem Sri Sultan HB X yang tetap dilestarikan secara rutin pada hari tersebut. Dalam perlombaan panahan ini terdapat hal yang unik bila diperhatikan yaitu setiap peserta wajib mengenakan busana tradisional dan saat memanah harus dalam posisi duduk bersila.
Selanjutnya anda dapat menyelusuri kompleks Keraton selanjutya dengan memasuki Museum Batik yang pernah diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2005. Dalam museum tersebut, anda akan banyak melihat beberapa koleksi batik dan peralatan yang digunakan dalam membatik semasa kepemimpinan Sultan HB VIII hingga Sultan HB X. Di dalam muuseum ini juga terdapat benda-benda yang merupakan hadiah dari sejumlah pengusaha batik di Yogyakarta maupun dari daerah lain.
Didekat museum tersebut terdapat sebuah sumur tua yang telah ditutup atasnya dengan menggunakan kasa aluminium dan terdapat tulisan “ pengunjung dilarang memasukkan uang “. Bila anda ingin membuktikan cobalah mendekat dan melihat kedalam sumur, ternyata sudah terdapat banyak kepingan uang logam dan kertas yang berhamburan di dasar sumur.
Setelah anda selesai menyusuri dan menikmati keindahan dalam keraton maka tibalah saatnya melangkahkan kaki keluar melewati pintuu regol. Dalam perjalanan menuju tempat parkir kendaraaan, anda akan dapat melihat papa nama yang menawarkan Kursus atau kelas untuk belajar kesenian jawa yaitu kelas : macapat, nembang, menari klasik, belajar mendalang serta menulis dan membaca huruf jawa. Kalau anda tertarik untuk belajar kesenian jawa maka anda dapat menindak lanjuti penawaran tersebut.
Lokasi
Keraton Yogyakarta berlokasi di pusat kota Yogyakarta. Halaman depan Keraton berupa Alun-alun Utara Yogyakarta dan halaman belakang Keraton berupa Alun-alun Selatan Yogyakarta.
Akses
Lokasi dan letak Keraton Yoagyakarta yang berada di pusat kotta Yogyakarta menjadikan akses menuju ke tempat tersebut sangat mudah, baik dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun menggunakan kendaraan umum.
Harga Tiket
  • Tepas Keprajuritan Rp.3.000,-
  • Tepas Pariwisata Rp.5.000,-
  • Ijin membawa kamera/video Rp.1.000,-
  • Tiket masuk bagian dalam Keraton melalui Keben Rp.7.000,-
Fasilitas
Salah satu fasilitas yang terdapat di Keraton ini yaitu adanya pertunjukan yang diadakan setiap hari dengan jadwal sebagai berikut :
  •  Senin – Selasa : Music Gamelan Dimulai jam 10.00 WIB
  • Rabu : Wayang Golek Menak Dimulai jam 10.00 WIB
  • Kamis : Pertunjukan Tari Dimulai jam 10.00 WIB
  • Jumat : Macapat Dimulai jam 09.00 WIB
  • Sabtu : Wayang Kulit Dimulai jam 09.30 WIB
  • Minggu : Wayang Orang & Pertunjukan Tari Dimulai jam 09.30 WIB
Fasilitas lain yang mendukung kepariwisataan berupa tempat parkir kendaraan yang terdapat di sekitar Pagelaran, Keben dan Alun-alun utara. Terdapat juga deretan kios penjual cinderamata yang berada disekitar Keraton.

Sumber :